Cara kerja alternator AC
Kerja alternator AC pada awalnya dibangkitkan secara terpisah dan setelah mesin hidup , rotor diputar oleh driving belt, dan kemudian terjadi pemotongan garis gaya magnet terhadap stator coil.Sehingga arus alternatif 3-phase dihasilkan pada stator coil. Tegangan AC ini disearahkan menjadi arus DC melalui 6 silicon diode dan dikeluarkan melalui terminal B. Tegangan juga dikeluarkan melalui terminal N alternator.
Ketika kecepatan putarannya mencapai 1,000rpm, tegangan dari arus AC ini lebih tinggi dari tegangan yang ada pada terminal baterai. Karena itulah, arus output disuplai dari terminal B ke setiap peralatan elektronik dan ke baterai sebagai arus pengisian. Output terminal tegangan N adalah setengahnya dari output terminal B. Tegangan ini digunakan untuk menjalankan voltage regulator.
Besarnya tegangan yang dibangkitkan oleh alternator dipengaruhi oleh :
a). Putaran mesin.
Tegangan yang dibangkitkan dipengaruhi oleh kecepatan putar dari rotor coilnya, bila putaran tinggi maka tegangan yang dibangkitkan semakin besar dan tegangan akan turun bila putaran rotor coilnya menurun. Maka untuk mendapatkan tegangan yang stabil yang akan disuplai ke peralatan kelistrikan pada mobil maka diperlukan suatu peralatan yang digunakan untuk menstabilkan tegangan yaitu regulator.
b). Besarnya arus listrik yang mengalir ke rotor coil.
Semakin besar arus listrik yang mengalir ke dalam rotor
coil maka tegangan yang dibangkitkan oleh alternator semakin besar. Maka arus
listrik yang mengalir ke dalam rotor coil harus diregulasi oleh regulator untuk
mendapatkan tegangan yang stabil.
c). Jumlah lilitan
rotor coil.
Semakin banyak
lilitan rotor coil maka semakin besar medan magnet yang dibangkitkan pada rotor coil. Jumlah lilitan ini telah
dirancang oleh pabrik pembuat alternator sehingga banyaknya lilitan kawat telah
ditetapkan.
Dari ke tiga factor tersebut yang bisa dimanipulasi untuk
mendapatkan output tegangan yang stabil dari alternator adalah dengan
memanipulasi besarnya arus listrik yang mengalir ke rotor coil.
3).
Alternator regulator
Output pada alternator ditentukan oleh banyaknya lilitan kawat stator
coil, kekuatan medan dan banyaknya garis-garis magnet per waktu
(kecepatan putaran). Karena itulah, begitu putaran mesin meningkat, tegangan
dan arus yang dibuat oleh alternator juga akan naik. Karena itulah, tegangan
dan arus yang dibangkitkan harus diatur untuk melindungi semua peralatan
elektronik dan alternator itu sendiri. Dan yang melakukan pengaturan ini adalah
alternator regulator. Alternator regulator dapat
mengatur arus yang dibangkitkan melalui pengaturan besar arus yang mengalir di
rotor coil dengan menggunakan regulator
mekanik dan IC regulator.
a). Voltage regulator
Voltage regulator fungsinya adalah untuk memastikan agar tegangan
yang dihasilkan selalu tetap konstan. Tegangan yang dibangkitkan oleh
alternator berkisar 13,8 – 14 Volt. Tegangan yang dibangkitkan oleh alternator
tidak boleh terlalu rendah ( voltage drop ) atau terlalu tinggi ( over charging
). Tegangan terlalu rendah akan mengakibatkan
baterai akan mudah tekor karena baterai
tidak discharging oleh sistem pengisian. Bila tegangan terlalu tinggi akan
mengakibatkan baterai cepat aus hal ini ditandai dengan baterai panas dan
elektrolit cepat panas yang mengakibatkan mempercepat proses penguapan
elektrolit. Untuk menghindari hal tersebut tegangan yang dibangkitkan oleh sistem
pengisian harus konstan setiap variasi kecepatan mesin.
Jenis voltage regulator ada beberapa macam yaitu vibration
contacting, carbon pile, transistor dan IC. Sekarang ini yang dipakai adalah
hanya jenis IC. Dan akan dijelaskan pada bab AC alternator regulator dengan
jenis transistor.
(1).
Konstruksi dan cara kerja
regulator AC tipe mekanikal.
Pada prinsipnya
regulator ini dalam meregulasi tegangan yang dibangkitkan adalah dengan
mengatur arus listrik yang masuk kedalam rotor coil.
Gambar 2. Konstruksi regulator mekanik dan wiring diagram.
Komponen utama dari voltage regulator terdiri dari :
(a). Resistor.
Berfungsi untuk membatasi arus listrik yang masuk ke rotor
coil. Pembatasan arus listrik terjadi ketika mesin putaran menengah dan putaran
tinggi. Nilai tahanan resistor yang diaplikasikan pada regulator jenis ini
berkisar 5 – 11 ohm tergantung dari pabrik pembuatnya.
(b). Voltage relay.
Voltage relay ini mempunyai 2 fungsi yaitu untuk mengatur hidup padamnya lampu control CHG dan
membuat hubungan arus output
alternator ke kumparan voltage regulator untuk mengatur besarnya kemagnetan
yang terjadi pada kumparan voltage regulator. Pada saat mesin mati kunci kontak
ON lampu control CHG hidup , bila mesin berputar maka lampu control CHG padam.
(c).
Voltage regulator
Voltage regulator
berfungsi untuk mengatur tegangan sistem pengisian dengan cara mengatur arus
listrik yang mengalir ke dalam rotor
coil.
Cara kerja regulator tipe mekanikal :
Arus input mengalir ke regulator melalui terminal IG dan
terminal L arus ini berasal dari sumber tegangan baterai.
Arus output mengalir ke regulator melalui terminal N dan terminal B arus ini berasal dari alternator ketika mesin sudah berputar. Arus dari terminal N dikirim ke kumparan voltage relay untuk memutus massa lampu CHG sehingga lampu CHG padam dan menghubungkan terminal B alternator dengan kumparan voltage regulator untuk mengalirkan arus listrik ke kumparan voltage regulator untuk mengatur koneksi kontak poin voltage regulator. Besarnya arus listrik yang masuk ke rotor coil diatur oleh voltage regulator dengan mengatur koneksi kontak poin voltage regulator. Bila mesin berputar stasioner arus listrik yang masuk ke rotor coil tidak dibatasi. Bila putaran menengah arus yang dikirim oleh terminal B alternator semakin besar sehingga kemagnetan yang terjadi pada kumparan voltage regulator mampu melawan kekuatan pegas sehingga kontak poin voltage regulator (PLo ) mengambang ditengah tidak membuat koneksi dengan kontak poin PL1 dan kontak poin PL2 sehingga arus yang mengalir rotor coil dibatasi oleh resistor. Semakin tinggi putaran mesin maka semakin kuat kemagnetan yang terjadi pada kumparan voltage regulator sehingga kontak poin PLo akan membuat koneksi dengan PL2 sehingga arus yang masuk ke rotor coil tidak ada karena arus langsung digrounded melalui koneksi PLo dan PL2. Akibatnya tidak terjadi pengisian ( terminal N dan B tidak mengirim arus listrik ) sehingga kontak poin voltage relay memutus koneksi terminal B regulator dan kumparan voltage regulator sehingga kemagnetan pada kumparan voltage regulator hilang menyebabkan kontak poin PLo lepas koneksinya dengan PL2 , sehingga terjadi pengisian kembali.
Cara kerja sistem
pengisian dengan menggunakan regulator tipe mekanikal :
Pada saat kunci kontak
ON mesin mati ( belum berputar ).
Gambar 3. Cara kerja sistem pengisian saat mesin mati. Arus listrik akan mengalir
ke lampu CHG dan ke rotor coil. Aliran arus listrik ke lampu CHG
Baterai à
fusible link à
kunci kontak terminal B à kunci kontak terminal IG
à sekering à
lampu CHG à
terminal L regulator à kontak poin voltage
relay Po à
kontak poin voltage relay P1 à terminal E regulator à massa
/ body.
Akibatnya : Lampu
CHG menyala. Aliran arus
listrik ke rotor coil.
Baterai à
fusible link à
kunci kontak terminal B à kunci kontak terminal IG
à sekering à
terminal IG regulator à kontak poin voltage
regulator PL1 à kontak poin voltage
regulator PLo à
terminal F regulator à terminal F alternator à brostel
+ à slip ring à
rotor coil à
Slip ring à brostel - à terminal E à massa / body.
Akibatnya : pada rotor coil terjadi kemagnetan.
Pada saat kunci kontak ON putaran mesin stasioner.
Gambar
4. Cara kerja sistem pengisian dengan regulator
mekanik pada saat mesin berputar stasioner.
Baterai à
fusible link à
kunci kontak terminal B à kunci kontak terminal IG
à sekering à
terminal IG regulator à kontak poin voltage
regulator PL1 à kontak poin voltage
regulator PLo à
terminal F regulator à terminal F alternator à brostel
+ à slip ring à
rotor coil à
Slip ring à brostel - à terminal E à massa / body.
Akibatnya : pada rotor coil terjadi kemagnetan.
Mesin hidup maka alternator berputar sehingga terjadi
pemotongan garis gaya magnet rotor coil terhadap
stator coil sehingga alternator membangkitkan arus listrik AC yang selanjutnya arus
AC disearahkan oleh diode menjadi arus DC. Alternator membangkitkan arus listrik keluar lewat terminal B dan
terminal N.
Arus keluar terminal
N :
Terminal N alternator à terminal N regulator à kumparan
voltage relay à
terminal E regulator à massa / body.
Akibatnya : terjadi kemagnetan pada kumparan voltage relay
sehingga mempengaruhi kedudukan kontak poin voltage relay Po lepas hubungannya dengan kontak poin
voltage relay P1 dan berhubungan
dengan kontak poin voltage relay P2. Lepasnya hubungan P1 dan Po dan terjadi
hubungan kontak poin voltage relay Po dan P2 maka massa lampu terputus sehingga
lampu CHG padam. Terjadinya hubungan kontak poin voltage relay
Po dan kontak poin voltage relay P2 sebagai koneksi saluran
arus listrik yang akan dikirim dari terminal B alternator ke kumparan voltage
regulator untuk mengontrol tegangan pengisian.
Arus keluar dari terminal B untuk pengisian
:
Terminal B alternator à fusible link à
baterai. Akibatnya : terjadi pengisian pada baterai.
Arus keluar terminal B yang dikirim
ke kumparan voltage regulator :
Terminal B alternator à terminal B regulator à kontak
poin voltage relay P2 à
kontak poin voltage relay Po à kumparan voltage
regulator à
terminal E regulator à massa / body.
Akibatnya : terjadi kemagnetan , karena mesin berputar stasioner maka arus yang mengalir masih
kecil sehingga kemagnetan yang terjadi pada kumparan voltage regulator belum kuat menarik kontak poin voltage
regulator PLo sehingga pada saat mesin berputar stasioner arus yang masuk ke
rotor coil belum dibatasi oleh
resistor.
Pada saat mesin putaran menengah
:
Pada saat mesin putaran menengah , arus yang dibangkitkan
oleh alternator semakin besar. Sehingga arus yang dikirim ke kumparan voltage
regulator semakin besar sehingga kemagnetan
yang terjadi pada kumparan voltage regulator mampu mempengaruhi kedudukan kontak poin voltage
regulator. Pada saat ini kontak poin voltage regulator PLo lepas
hubungannya PL1 sehingga PLo mengambang ditengah akibatnya arus yang mengalir
ke rotor coil dibatasi oleh resistor. Karena ada pembatasan / pengendalian besarnya arus listrik
Gambar 5. Cara kerja sistem pengisian putaran mesin menengah.
yang
mengalir ke rotor coil maka tegangan yang dibangkitkan oleh alternator dapat
dikendalikan. Tegangan yang dikeluarkan oleh sistem pengisian stabil 13,8 – 14
volt.
Gambar 6. Cara kerja sistem pengisian saat putaran mesin tinggi.
Pada saat putaran tinggi arus listrik yang dibangkitkan
alternator semakin besar sehingga kemagnetan pada kumparan voltage regulator
semakin besar sehingga kontak poin voltage regulator PLo berhubungan dengan
kontak poin voltage regulator PL2 sehingga mengakibatkan arus ke rotor coil
tidak ada ada karena arus dari IG
regulator lewat resistor langsung diground
ke massa sehingga pada rotor coil tidak terjadi kemagnetan sehingga
mengakibatkan alternator tidak membangkitkan arus listrik.
Sehingga tidak ada arus listrik yang dikirim ke kumparan
voltage relay dan voltage regulator, maka masing – masing kontak poin kembali
ke posisi semula karena adanya gaya pegas. Arus dari baterai mengalir kebali ke
rotor coil sehingga terjadi kemagnetan pada rotor coil sehingga alternator
membangkitkan arus listrik pengisian kembali bekerja.
b). Voltage regulator jenis transistor
Menggunakan transistor sebagai switch / saklar menggantikan kontak poin yang dipakai oleh regulator tipe mekanikal
, voltage regulator jenis transistor merubah rata-rata arus untuk mengatur
tegangan yang akan dihasilkan.
Gambar 7. Perbedaan regulator mekanik dan IC regulator
Pada tipe ini, ada semi-transistor yang merupakan gabungan transistor dan relay dan full
transistor dimana komponen
mekanisnya dihilangkan. Selanjutnya, IC regulator termasuk
di dalamnya jenis full
transistor yang dipasang di dalam bodi alternator menggunakan IC circuit.
(1). IC voltage regulator
(a). Tujuan pemakaian IC voltage
regulator
Charging circuit pada IC voltage regulator terdiri dari
sirkuit semikonduktor yang gunanya untuk mensuplai dan memutus
arus pada rotor coil yang kemudian dapat mengatur tegangan yang dihasilkan pada
alternator AC. Pada dasarnya prinsip
kerjanya adalah sama seperti pada jenis
transistor. Namun, ukurannya dapat dibuat lebih kecil sehingga dipasang di dalam bodi alternator. Dan charging circuit pada jenis regulator ini dapat dibuat secara sederhana. Adapaun keunggulannya adalah sebagai berikut;
* Wiring-nya sederhana.
* Tegangannya tidak turun naik karena adanya guncangan dan ketahanannya cukup
baik.
* Tingkat keakuratan pengaturan tegangan tinggi cukup
baik.
* Tahan terhadap
panas dan output-nya cukup tinggi.
* Ukurannya
kecil sehingga mudah dipasang di dalam alternator.
* Kemampuancharging
dapat ditingkatkan, dan tenaga listriknya dapat disalurkan ke masing-masing
beban listrik secara benar.
(2). Prinsip kerja IC voltage regulator
Gambar 8. Cara kerja IC regulator saat mesin mati.
(a).
Ketika kunci kontak ON dan mesin dalam keadaan mati Arus
listrik dari baterai mengalir ke MIC ( Monolithic Integreted Circuit ) dan ke
rotor coil.
Arus yang mengalir ke MIC :
Baterai à
fusible link à
kunci kontak terminal B à kunci kontak terminal IG
à terminal IG alternator. Pada saat ini MIC mendeteksi tegangan pada
terminal IG yang selanjutnya mengirim arus ke terminal
Basis pada TR1 dan TR3 sehingga TR1 dan TR3 menjadi ON. TR1 ON
mengakibatkan arus listrik dari baterai bisa mengalir ke rotor coil dan TR3 ON
mengakibatkan arus listrik bisa mengalir ke lampu CHG.
Aliran arus listrik
ke rotor coil :
Baterai à kunci kontak terminal B à kunci kontak terminal
B
à terminal B alternator à brostel + à slip ring à rotor coil
à slip ring à
brostel – à terminal
F regulator à
terminal Colektor TR1 à terminal emitter
TR1 à terminal E alternator
à massa / body.
Akibatnya : pada rotor coil dialiri arus listrik sehingga
pada rotor coil terjadi medan magnet.
Aliran arus listrik
ke lampu CHG :
Baterai à
fusible link à
kunci kontak terminal B à kunci kontak terminal IG
à lampu CHG à
terminal L alternator à terminal L MIC à terminal
colektor TR3 à
terminal emiter TR3 à terminal E MIC à terminal E alternator à
massa / body.
Akibatnya : lampu CHG dialiri arus listrik sehingga lampu
CHG menyala.
(b). Ketika alternator AC mulai bekerja setelah mesin dihidupkan
Tegangan yang dibangkitkan normal 13,8 – 14,8 volt.
Gambar 9. Cara kerja IC regulator saat tegangan pengisian normal
Pada saat ini alternator membangkitkan arus listrik
keluar terminal B alternator dan terminal P MIC.
Arus yang keluar dari terminal B alternator :
Terminal B alternator à fusible link à baterai + à baterai -
à massa / body.
Akibatnya : terjadi proses pengisian pada baterai. Arus
yang dikeluarkan oleh terminal B alternator tidak mengalir ke terminal B MIC
karena pada MIC dipasang diode D1.
Arus alternator yang menuju
ke terminal P MIC :
Alternator à terminal P MIC à MIC mendeteksi tegangan pada terminal P sehingga
TR1 ON , TR2 ON dan TR3 OFF. TR1 ON maka arus bisa mengalir ke rotor coil.
TR2 ON maka pada terminal IG dan terminal L tidak ada
perbedaan tegangan sehingga tidak ada arus yang mengalir ke lampu CHG sehingga
lampu CHG padam.
Karena TR3 OFF maka massa lampu CHG terputus sehingga lampu
CHG pada. Padamnya lampu CHG diakibatkan oleh TR2 ON dan TR3 OFF.
(c).
Ketika tegangan yang dibangkitkan pada alternator AC melebihi batas aturan karena putaran
mesin yang tinggi. Tegangan pada terminal
P MIC diatas 14,5 dan MIC
mendeteksi tegangan pada terminal S sehingga TR1 OFF.
Tegangan pada terminal S diatas 14,5 mampu menembus
tegangan kerja diode zener sehingga
MIC mendeteksi
tegangan pada terminal S sehingga TR1 ON sehingga arus
mengalir ke rotor coil kembali,
Gambar 10. Cara kerja IC regulator
bila tegangan diatas tegangan normal
sehingga terjadi proses pengisian. MIC akan mematikan
TR1 bila tegangan yang dibangkitkan oleh alternator diatas 14,5 volt.
Terminal S putus ( disconnected )
Gambar 11. Cara kerja IC regulator bila terminal S putus
Bila terminal S putus maka MIC akan mendeteksi tidak ada tegangan pada pada
terminal S maka akan mengakibatkan TR2 OFF dan
TR3 ON. Karena TR2 OFF dan TR3 ON maka
lampu CHG menyala.
Pada terminal P tegangannya diatas 16 volt maka MIC akan mendeteksi tegangan pada terminal P sehingga TR1 OFF sehingga tegangan pada terminal P turun di bawah 16 volt , penurunan tegangan ini dideteksi oleh MIC sehingga TR1
ON arus mengalir ke rotor coil sehingga terjadi proses pengisian. Lampu CHG menyala pada saat mesin hidup hal ini menunjukkan sistem pengisian bekerja tidak normal.
Terminal B putus ( disconnected )
Tegangan pada terminal S diatas 13 volt akan dideteksi oleh MIC . Tegangan pada terminal P diatas 20 volt mengakibatkan tegangan pada terminal S dibawah 13 volt selanjutnya dideteksi oleh MIC sehingga TR2 ON OFF dan TR3 ON sehingga lampu CHG menyala